Minggu, 02 Oktober 2011

askep fraktur


ASKEP FRAKTUR
PENGERTIAN
       Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. (smeltzer S.C & Bare B.G,2001)
       Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh.( reeves C.J,Roux G & Lockhart R,2001 )

Prevalensi
USIA DI BAWAH 45 TH PRIA > WANITA
                berhubungan dengan olahraga, pekerjaan atau kecelakaan
PADA USILA  > terjadi pd WANITA
b.d adanya osteoporosis yg terkait dengan perubahan hormone
Penyebab Fraktur
       Fraktur akibat peristiwa trauma
       Fraktur akibat peristiwa kelelahan atau tekanan.
       Fraktur patologik karena kelemahan pada tulang
Klasifikasi fraktur berdasarkan :
  1. Letaknya : diafise, metafise, epifise, intra articular.
  2. Luasnya : tidak komplit (retak), komplit.
  3. Sudut patah: # transversal, oblique, spiral.
  4. Jumlah garis patah: kominutif, segmental, multiple
  5. Pergeseran/Hubungan antara fragmen # satu sama lainnya :  # displace, undisplace.
  6. Hubungan # dengan lingkungannya : terbuka, tertutup
  7. Trauma
BERDASARKAN LETAK
Berdasarkan Luas
    1. Complete fraktur ( fraktur komplet ), patah pada seluruh garis tengah tulang,luas dan melintang. Biasanya disertai dengan perpindahan posisi tulang.
Fraktur Tidak Komplit
fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok







Berdasarkan sudut
 FRAKTUR TRANSVERSAL
 fraktur sepanjang garis tengah tulang

Oblik
 Fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang








Spiral
 
fraktur memuntir
seputar batang tulang

Berdasarkan jumlah garis patah
       Fraktur kominutif: garis patah lebih dari 1 dan saling berhubungan.
       Fraktur segmental: garis patah lebih dari 1 tetapi tidak saling berhubungan.
       Fraktur multiple: garis patah lebih dari 1 tetapi pada tulang yang berlainan
Fraktur Komunitif
 fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen



Berdasarkan Pergeseran
a.Fraktur undisplaced: garis patah komplit tetapi ke-2 fragmen tidak bergeser, periosteumnya masih utuh.
b.Fraktur displaced: terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga disebut dislokasi fragmen. Terbagi atas:
  • Dislokasi ad longitudinal cum contractionum:    pergeseran searah sumbu dan overlapping.
  • Dislokasi ad axim: pergeseran yang membentuk sudut.
  • Dislokasi ad latus: pergeseran di mana kedua fragmen saling menjauh.

Berdasarkan Hub. Dg Lingk
a.                   Closed frakture ( simple fracture ),
 tidak menyebabkan robeknya kulit, integritas kulit masih utuh.
b.                  Open fracture
( compound frakture / komplikata)
  

 
q  Fraktur terbuka digradasi menjadi 3    ( R GUSTILLO ) :
Ø  Grade I : luka bersih,panjang < 1 cm
Ø  Grade II                  : luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif
Ø  Grade III               : sangat terkontaminasi, dan mengalami kerusakan jaringan lunak         ekstensif.

Karena trauma
a.            Fraktur Impresi
IF1 IF2
fraktur dengan frakmen patahan terdorong kedalam ( sering terjadi pada tulang tengkorak dan wajah )





b.Kompresi
 fraktur dimana tulang mengalami kompresi ( terjadi pada tulang belakang )



c.Avulsi
tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo pada prlekatannya ( fr patela )


d.Impaksi
fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya.
  

e.Patologik

       fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit ( kista tulang, paget, metastasis tulang, tumor )

 



Manifestasi klinis                                                                                  
       Nyeri terus menerus
       hilangnya fungsi
       Deformitas
       Pemendekan ekstremitas
       Krepitus
       Pembengkakan lokal dan perubahan warna.

Pemeriksaan
       5 P pain ( rasa sakit ),paloor ( kepucatan/ perubahan warna), paralisis ( kelumpuhan ),
parasthesia ( kesemutan ),
pulselessnes ( tidak ada denyut )
       Rotgen sinar X
       Pemeriksaan lab darah

Penatalaksanaan Fraktur 4R
  1. Recognition : diagnosis dan penilaian fraktur
  2. Reduction : mengembalikan atau memperbaiki bagian-bagian yang patah ke dalam bentuk semula (anatomis )
  3. Retention : Immobilisasi
  4. Rehabilitation : mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin. Sedangkan penatalaksanaan definitif fraktur adalah dengan menggunakan gips atau dilakukan operasi dengan ORIF maupun OREF.






Jenis2 Reduction
a.Manipulasi atau close red
Adalah tindakan non bedah untuk mengembalikan posisi, panjang dan bentuk. Close reduksi dilakukan dengan local anesthesia ataupun umum
.
 
b.Reduksi terbuka ( ORIF )
Dengan pendekatan bedah. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku.
c.Traksi
Alat traksi diberikan dengan kekuatan tarikan pada anggota yang fraktur untuk meluruskan bentuk tulang.






Macam2 traksi
1)      Skin traksi
Skin traksi adalah menarik bagian tulang yang fraktur dengan menempelkan plester langsung pada kulit, digunakan untuk jangka pendek (48-72 jam).
2)      Skeletal traksi
untuk meluruskan tulang yang cedera dan sendi panjang untuk mempertahankan traksi, memutuskan pins (kawat) ke dalam tulang.
3)      Maintenance traksi
Merupakan lanjutan dari traksi, kekuatan lanjutan dapat diberikan secara langsung pada tulang dengan kawat atau pins.

Skin traksi
  






Skeletal traksi
  


Perkiraan waktu imobilisasi
Fraktur
Lamanya ( minggu )
Falang ( jari )
3-5
Metakarpal
6
Karpal
6
Skafoid
10
atau sampai terlihat penyatuan pada sinar X


Fraktur
Lamanya ( minggu )
Radius dan ulna
10-12
Humerus
    • Suprakondiler
    • Batang
    • Proksimal ( impaksi )
    • Proksimal ( dengan pergeseran )


3
8-12
3
6-8




fraktur
Lamanya ( minggu )
Tibia
    • Proksimal
    • Batang
    • Maleolus


8-10
14-20
6
Kalkaneus
12-16
Metatarsal
6
falang ( jari kaki )
3

Stadium penyembuhan fraktur
1.Pembentukan Hematom : kerusakan jaringan lunak dan penimbunan darah.
2.Organisasi Hematom  / Inflamasi dalam beberapa jam post fraktur : fibroblast ke hematom, beberapa hari terbentuk kapiler (jaringan granulasi).
3.Pembentukan kallus Fibroblast pada jaringan granulasi : kolagenoblast kondroblast, partisipasi osteoblast sehat terbentuk kallus (Woven bone).
4.Konsolidasi  : woven bone berubah menjadi lamellar bone.
5.Remodelling : Kalus berlebihan menjadi tulang normal




Komplikasi
  1. Shock
  2. Infeksi
  3. Nekrosis di vaskuler
  1. Cidera vaskuler dan saraf
  2. Borok akibat tekanan
  3. Gangren

Komplikasi 
g.Malunion : tulang patah telah sembuh dalam posisi yang tidak seharusnya.
h.Delayed union : proses penyembuhan yang terus berjalan tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.
i.Non union : tulang yang tidak menyambung kembali


PENGKAJIAN
1. Pengkajian primer
­Airway
      Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk .
Br eathing
   Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi.
Circulation
   TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut .


                                                                                                                      
2.       Pengkajian sekunder
  1. Aktivitas/istirahat
  • kehilangan fungsi pada bagian yang terkena
  • Keterbatasan mobilitas
b.Sirkulasi
  • Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas)
  • Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah)
  • Tachikardi
  • Penurunan nadi pada bagiian distal yang cidera
  • Capilary refil melambat
  • Pucat pada bagian yang terkena
  • Masa hematoma pada sisi cedera

c. Neurosensori
  • Kesemutan
  • Deformitas, krepitasi, pemendekan
  • kelemahan

d. Kenyamanan
  • nyeri tiba-tiba saat cidera
  • spasme/ kram otot

e. Keamanan
  • laserasi kulit
  • perdarahan
  • perubahan warna
  • pembengkakan lokal


DIAGNOSA KEPERAWATAN
  1. Nyeri b.d spasme otot , pergeseran fragmen tulang
  2. Kerusakan mobilitas fisik b.d cedera jaringan sekitasr fraktur, kerusakan rangka neuromuskuler
  3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan penurunan sirkulasi daerah tertekan

Nyeri b.d spasme otot , pergeseran fragmen tulang
       Tujuan : Nyeri berkurang/hilang dengan kriteria : tidak mengeluh nyeri, ekspresi wajah ceria.
Tindakan keperawatan :
1.) Kaji lokasi dan karakteristik nyeri
Rasional : Untuk mengetahui asal dan kapan datangnya nyeri sehingga dapat diberikan tindakan yang tepat.
2.) Pertahankan imobilisasi secara efektif dengan tirah baring dan fiksasi.
Rasional : Mencegah pergerakan yang sering dari tulang yang patah sehingga tidak merangsang saraf.
3.) Mengatur posisi kaki dan luka tanpa mempengaruhi axis tulang.
Rasional : Aliran darah lancar sehingga menimbulkan rasa nyaman.
4.) Ajarkan tehnik relaksasi nafas dalam
Rasional : Menambah suplay O2 ke jaringan sehingga mengurangi ketegangan otot dan menurunkan ambang nyeri.
5.) Kolaborasi tim medik dengan pemberian analgetik.
Rasional : Analgetik menghambat reseptor nyeri sehingga tidak dipersepsikan

Kerusakan mobilitas fisik b.d cedera jaringan sekitasr fraktur, kerusakan rangka neuromuskuler
       Tujuan : Untuk mempertahankan kemampuan pergerakan fisik kriteria terpelihara posisi fungsional dan dapat menunjukkan cara melakukan pergerakan fisik.
Tindakan keperawatan :
1.) Kaji tingkat immobilisasi
Rasional : Mengetahui persepsi klien sampai dimana klien dapat melakukan imobilisasi.
2.) Bantu klien dengan melakukan range of motion positif pada ekstremitas yang sakit maupun yang tidak.
Rasional : Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang, mencegah kontaktur, atropi otot dan mempertahankan mobilitas sendi tulang.
       3.) Dorong klien melakukan latihan isometrik untuk anggota badan yang tidak diimobilisasi.
Rasional : Membantu menggerakkan anggota badan serta dapat mempertahankan kekuatan dan massa otot.
4.) Kolaborasi dengan dokter/therapist untuk memungkinkan dilakukan rehabilitasi.
Rasional : Berguna dalam menggerakkan program latihan dan aktivitas secara individ

Gangguan integritas kulit berhubungan dengan penurunan sirkulasi daerah tertekan
       Tujuan : Gangguan integritas kulit/ jaringan teratasi dengan kriteria : tidak ada rasa panas pada punggung dan bokong, kulit pinggang dan bokong tidak nyeri, terjadi perbaikan luka.
Tindakan keperawatan :
1.) Observasi daerah-daerah yang terkena.
Rasional : Memberi gambaran daerah yang decubitus serta tekanan kulit akibat spalk gips dan lain-lain.
2.) Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan perasat.
Rasional : Tindakan yang penting untuk mencegah kontaminasi mikroba yang berpindah secara langsung dari tangan.
       3.) Bersihkan luka decubitus dengan obat antiseptik.
Rasional : Mencegah berkembangnya kuman dalam luka.
4.) Pijat daerah tulang dan kulit yang mendapat tekanan dengan lotion.
Rasional : Meningkatkan sirkulasi dan mencegah lecet pada kulit.
5.) Rubah posisi tidur dengan ganjalan bantal/kain pada posisi daerah tertekan.
Rasional : Mengurangi tekanan terus-menerus pada daerah tertentu














Tidak ada komentar:

Poskan Komentar